Ramadan 1435 H

Jujur saja, saya sangat merindukan suasana kampung halaman yang meriah dengan ke-khas-annya tersendiri. Berbeda sekali dengan suasana disini, penduduk padat tapi kesan yang saya dapatkan adalah sepi sekali.

Berbeda dengan di kampung saya, walaupun jarak antar rumah dengan rumah lainnya itu ada jarak, namun terasa sangat hangat, terasa sangat ramai, entah kenapa. Saya rindu ketika susahnya cari sinyal coverage hape, saya rindu pasang antena modem, saya rindu ngebutnya pak ustad ketika salat tarawih.

Hal lain yang saya rindukan dari kampung halaman adalah suasana kehangatan sahur dan buka puasa bareng keluarga. Saya juga sudah sangat lapar akan aroma dan cita rasa masakan Ibu. Ah, tidak ada duanya. Walaupun menu makanan sederhana, namun terasa makan di restoran mahal. Serius, ini bukan di lebay lebaykan.

Mungkin kamu yang nyasar baca tulisan ini juga merasakan hal yang sama. Dan mungkin kita jodoh. Eh tapi nih ya, bentar lagi saya pulang. Tidak berbeda jauh dengan bang toyib yang jarang sekali pulang.

Ini ramadan ke-2 saya di kota orang. Kota yang disebagian sudut adalah keren banget, tapi di sebagian sudut lagi tidak jauh berbeda dengan kota kota lainnya, kumuh, polusi udara, dan juga cuaca hangat, tidak ketinggalan pula curah hujan yang cukup tinggi. Jarak yang sedang, ya tidak deket dan tidak terlalu jauh juga dari koordinat rumah emak dan babeh saya di kampung sana.

So, mungkin saya masih newbie dalam hal perantauan, susah kalo jauh dari orangtua, tapi bukannya tidak bisa mandiri. Ya yang jelas gak bisa jauh aja dari orangtua. Saya harus selalu ada buat mereka setiap saat.

Pingin rasanya pulang dari perantauan itu bawa uang sekoper, dan pingin rasanya saya ditangisi oleh kedua orangtua karena keberhasilan saya. Tapi, perjuangan tidaklah semudah itu. Saya berharap bisa secepatnya pulang.